Vlog-01


Ceritanya belakangan ini saya tergila-gila menonton kanal orang-orang gila yang punya vlog. Akhirnya, karena iri, saya coba-coba mengganti cara merekam di kamera saya, yang tadinya sekedar untuk memotret, jadi untuk merekam video. Selain itu, saya juga coba-coba memakai software perekayasa video sederhana.

Hasilnya adalah sebuah rangkaian perilaku saya dalam tiga minggu yang harusnya saya tulis tapi sekarang jadi sebuah ringkasan video berdurasi sekitar tiga menit saja.

Silakan mengritik habis video percobaan pertama ini karena memang kemampuan saya masih sangat terbatas. Tapi jangan lupa juga untuk men-subscribe vlog saya di sini.

Jangan lupa juga untuk terus melihat foto-foto proyek 365 di sini.

Proyek 365

OK, proyek ini sebenarnya proyek lama yang belum pernah benar-benar sukses. Selalu saja pada hari ke sekian, saya terlupa, terlalu sibuk, atau terlalu sok sibuk hingga akhirnya proyek gagal total.

Dulu proyek ini saya namai: "a photo a day keeps the doctor away". Tapi rupanya saya gagal. Berikutnya saya namai: "wajah", karena saya berambisi mengabadikan wajah saya, setiap hari selama satu tahun. Inspirasinya adalah dari seorang yang berhasil mengabadikan fotonya setiap hari hingga ia meninggal karena kanker. Dalam rangkaian foto itu terlihat bagaimana wajah bisa berubah-ubah selama hidup ini. Namun lagi-lagi proyek "wajah" gagal di hari ke sekian.

Kali ini, saya mencoba lagi proyek menarik ini. Saya namai: "365". Artinya sederhana: 365 foto dalam satu tahun kehidupan saya. Alias satu foto satu hari. Dengan dukungan kamera yang saat ini ada dalam bermacam bentuk, semoga proyek ini bisa berhasil.

Tanpa muluk-muluk seperti sebelumnya (akhirnya saya sadar bahwa membentuk kebiasaan itu harus dari hal yang sangat sederhana), saya memilih Tumblr untuk menyimpan foto-foto dalam proyek ini. Jadi, untuk yang berminat melihat satu foto setiap hari selama satu tahun, silakan klik di sini. Silakan juga untuk berkomentar di sana.

Proyek ini dimulai tanggal 30 Maret 2013. Jadi hari ini baru memasuki hari ke-16.

Kulineran Jakarta: Santong Kuo Tieh - Suikiaw 68


Masih dari daerah Glodog, Jakarta Barat. Kali ini sebuah kedai yang juga cukup legendaris, setidaknya menurut teman saya yang sudah 30 tahun meninggalkan Jakarta dan masih selalu merindukan tempat ini.

Tempatnya sederhana. Sejak mau masuk tempat ini, pengunjung sudah disuguhi pemandangan yang menggambarkan betapa sibuknya restoran ini. Bayangkan saja, di sebelah kiri, ada beberapa pekerja yang sedang menggoreng makanan dengan wajan super besar dan api yang menjilat-jilat. Sedangkan di sebelah kanan ada beberapa pekerja yang dengan cekatan membuat adonan, mengisinya, dan membentuk hingga siap diolah lebih lanjut.

Makanan yang istimewa di tempat ini adalah, sesuai nama restorannya, kuo tieh dan suikiaw. Hampir semua meja yang dipenuhi pengunjung memesan salah satu atau kedua makanan ini. Memang dalam daftar menu makanan tersebut dijual 10 buah per porsi. Namun pada praktiknya, saya diperbolehkan memesan 5 buah kuo tieh dan 5 buah suikiaw dalam satu porsi.

Bagi saya yang tidak punya kenangan apa-apa tentang daerah ini dan makanannya, rasa kuo tieh dan suikiaw di tempat ini sebenarnya biasa saja. Cuma memang ukurannya cukup besar sehingga terlihat begitu menggoda selera.

Bila disuruh memilih, saya lebih suka kuo tieh daripada suikiawnya.


Kulineran Jakarta: Bakmie Ayam Amoy


Jalan-jalan ke daerah Glodok, tidak lengkap rasanya kalau tidak makan bakmi. Makanan berbahan dasar tepung terigu yang konon kabarnya diperkenalkan oleh para pedagang dari China ini memang sangat khas di daerah ini.

Salah satu yang menurut teman saya cukup legendaris adalah bakmi ayam Amoy, yang terletak di sebuah gang, yang penuh sesak dengan para pedagang makanan, di sebelah gedung Gloria, Glodok. Disebut legendaris karena memang bakmi ayam Amoy sudah mulai berjualan sejak 20 tahunan lalu.

Tempatnya memang sederhana. Hanya sebuah gerobak tempat memasak dan satu meja makan panjang plus kursinya. Tapi karena penggemarnya begitu banyak dan membludag, maka pengunjung harus jeli mencari-cari tempat sendiri untuk memakan mie yang lezat itu. Untungnya, saya masih dapat tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari gerobak. Walau mejanya kecil dan harus berbagi dengan 3 orang lain, saya tetap tidak mau menyerah.


Benar saja, bakmie ayam Amoy memang bukan bakmi ayam biasa. Rasanya yang enak, terbukti dengan penggemarnya yang begitu banyak, memang berhasil menggoyang lidah. Rasa mienya saja sudah enak, apalagi bila ditambah dengan kuah dan kelengkapan lainnya. Bagi yang suka daging babi, boleh meminta daging babi panggang yang sangat khas daerah pecinan. Jangan lupa juga minta lemak yang sudah digoreng sehingga menjadi renyah dan gurih. Khusus untuk lemak yang renyah itu, tidak perlu bayar alias gratis!

Jadi, untuk yang tidak berkeberatan dengan makan di gang yang agak sempit, berbagi semeja dengan orang lain, dan kebetulan sedang jalan-jalan di daerah Glodok, jangan sampai tidak mampir ke bakmi ayam Amoy.

Fukurou


Seorang teman pernah bilang bahwa punya bisnis restoran itu ada efek sampingnya. Tentu saja efek samping yang baik. Efek samping itu antara lain adalah bisa bertemu bermacam orang dengan bermacam latar belakang dan pekerjaan. Inilah yang saya benar-benar rasakan belakangan ini.

Jadi ceritanya iseng-iseng saya ngobrol dengan seorang tamu tentang pekerjaan yang dia tekuni. Tamu ini adalah tamu setia yang kalau ke kedai kopi saya, selalu saja bertahan dari siang hari hingga kedai tutup sekitar pukul sepuluh malam. Rupanya dia adalah seorang desainer yang membuat berbagai macam gambar kaos untuk kliennya yang tersebar di mancanegara.

Alfred, salah satu produk Fukurou

Sayapun iseng. Dengan pengalaman kerja di bidang garmen yang saya tekuni delapan tahun belakangan, saya memberanikan diri untuk mengajak membuat usaha bersama. Dia di bagian desain (yang mana tidak pernah bisa saya dalami), sementara saya di bagian produksi dan penjualan. Tidak berhenti sampai di situ, sayapun mengajak seorang tamu kedai kopi saya yang lain juga untuk ikut bergabung. Kebetulan dia berpengalaman di bidang usaha distro. Jadilah bisnis berjalan.

Geisha and a sword, salah satu produk Fukurou.

Saat ini bisnis yang kami namai "Fukurou" telah sedikit demi sedikit berjalan. Saya mencoba memasarkannya melalui toko online saya di Etsy: IrregularPattern. Sedangkan seorang teman lain mencoba memasarkan langsung ke distro-distro di sekitar kami.

Jadi, kalau ada yang berminat untuk membeli atau ikut memasarkan produk Fukurou, jangan malu-malu untuk langsung menghubungi saya.

Kulineran Bali: Sidewalk BBQ

Suasana Sidewalk BBQ yang santai.

Kali ini kembali ke Bali. Ada sebuah tempat makan baru yang resmi dibuka tanggal 14 Februari 2013 kemarin. Namanya Sidewalk BBQ. Letaknya di bagian depan sebuah restoran yang sudah berjalan sekitar dua tahunan bernama Warung Oppen. Jadi menunya selain BBQ, juga menu dari Warung Oppen. Selain itu di lantai duanya juga ada kedai kopi yang pernah saya tulis di sini, Coffee Revolution. Jadi bisa dibilang Sidewalk BBQ ini adalah sebuah tempat makan yang super lengkap menunya.

Dari sisi tempat, Sidewalk BBQ sangat santai. Bernuansa sushi bar, para tamu duduk menghadap ke juru masak yang siap memasak makanan-makanan yang dipesan. Kalau yang mau lebih santai, ada juga tempat duduk dengan bantal-bantal empuk dengan pemandangan ke jalan raya. Duduk di Sidewalk BBQ saat menjelang malam, sangat seru rasanya.

Untuk makanan, Sidewalk BBQ menawarkan beef tenderloin, beef sirloin, chicken kebab, bahkan lobster dan king prawn. Tapi yang istimewa adalah menu "Slow-roasted pork belly" yang adalah 300 gram daging yang dipanggang perlahan hingga bagian kulitnya begitu renyah ketika dimakan. Makanan ini benar-benar membuat saya tergila-gila. Awalnya menu tersebut hanya muncul di setiap hari Minggu, namun sekarang, karena begitu banyak permintaan, maka menu itu bisa dipesan setiap hari.

Menu lain yang tidak kalah seru adalah "Super size pork chop". Dengan berat 300 gram, makanan istimewa itu mampu mengenyangkan bahkan perut saya yang susah dikenyangkan ini. Bahkan tulangnya yang khas itupun tidak rela saya tinggalkan.

Super size pork chop.

Soal rasa, bumbu BBQ di Sidewalk BBQ benar-benar tiada tara. Bukan hanya enak di bagian luarnya, tapi juga merasuk sampai ke bagian dalam daging. Benar-benar "finger lickin' good"!

Harga juga bukan masalah. Slow-roasted pork belly yang istimewa itu hanya Rp. 40.000,- saja. Super size pork chop yang memang super size itu hanya Rp. 40.000,-! Beef sirloin BBQ-nya hanya Rp. 35.000,-! Benar-benar bukan masalah!

Secara keseluruhan, Sidewalk BBQ adalah restoran yang masuk dalam daftar wajib didatangi.

Sidewalk BBQ
Jl. Raya Semer, Kerobokan
Kuta - Bali 80361
Telpon: 03618475351
www.sidewalkbbq.com